Muslimin
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

TENTANG DAERAH GUE YACH

ASAL USUL BIMA

Sejarah Asal Usul Suku Bima dan Kebudayaannya. Suku Bima atau biasa disebut juga suku Dou Mbojo merupakan etnis  yang mendiami Kabupaten Bima dan Kota Bima. Suku ini dikabarkan telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Ada beberapa yang mengatakan tentang asal mula kata Bima menjadi suku tersebut yaitu :

  1. Ada pendapat yang mengatakan, Bima berasal dari kata “Bismillaahirrohmaanirrohiim”. Hal ini karena mayoritas suku Bima beragama Islam.
  2. Menurut sebuah legenda, kata Bima berasal dari nama raja pertama suku tersebut, yakni Sang Bima.

Nama Bima sebenarnya merupakan sebutan dalam bahasa Indonesia, sedangkan masyarakat Bima sendiri menyebut dengan kata Mbojo. Dalam suku Bima sendiri terdapat dua suku, yakni suku Donggo dan suku Mbojo. Suku Donggo dianggap sebagai orang pertama yang telah mendiami wilayah Bima.  

SEJARAH BIMA

Menurut Legenda yang tertulis dalam Kibat Bo’ suku Bima mempunyai 7 pemimpin di setiap daerah yang disebut Ncuhi. Pada masa pemberontakan di Majapahit, salah satu dari Pandawa Lima, Bima, melarikan diri ke Bima melalui jalur selatan agar tidak ketahuan oleh para pemberontak lalu berlabuh di Pulau Satonda. Setelah berlabuh, Bima menetap dan menikah dengan salah seorang putri di wilayah tersebut, hingga memiliki anak. Bima adalah seseorang yang memiliki karakter kasar dan keras, tapi teguh dalam pendirian serta tidak mudah mencurigai orang lain. Karena itulah, para Ncuhi mengangkat Bima menjadi Raja pertama wilayah tersebut yang kemudian menjadi daerah yang bernama Bima. Sang Bima dianggap sebagai raja Bima pertama. Tetapi Bima meminta kepada para Ncuhi agar anaknyalah yang diangkat sebagai raja. Karena dia akan kembali lagi ke Jawa. Bima menyuruh ke dua anaknya untuk memerintah Kerajaan Bima. Karena Bima berasal dari Jawa, sehingga sebagian bahasa Jawa Kuno kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.

BUDAYA KOTA BIMA

Bima itu unik karena di Bima terdapat Budaya yang tidak dimiliki oleh kota lain. Dengan beragam tarian tradisional baik yang lahir dari Istana maupun di luar Istana. Pada masa lalu, terutama pada zaman ke-emasan. Kesultanan Bima, Seni tari  dan atraksi seni budaya tradisioanl merupakan salah satu cabang seni yang sangat populer.

 

Ndempa Ndiha (kelahian Bareng) 

Tradisi Kelahian atau sering disebut Ndempa Ndiha adalah suatu tradisi yang berasal dari Desa Ngali Kabupaten  Bima provinsi  NTB yang sampai sekarang masih dilestarikan di tengah keringat bercucur setelah bekerja keras di sawah. Biasanya ndempa ndiha itu terjadi ketika masyarat udah selesai tanam Bawang, pernah sich aku ikut dalam ndempa idiha itu. Tradisi ini rutin dilaksanakan tiap tahun setelah panen dan saat musim kemarau. Orang-orang disana dengan penuh gembira dan semangat sangat menikmati tradisi tersebut. Meskipun tradisi ini sering disebut Ndempa Ndiha yang berarti kelahi bareng dan dijaman sekarang tentu saja mendengar kata kelahi sangat negative bagi kalangan umum. Tetapi orang disana menganggapnya sebagai wadah perkumpulan masayarakat. Mulai dari yang berusia dini sampai yang berusia lanjut terutama untuk masyarakat laki-laki. Walaupun tata caranya dilakukan dengan adu fisik, tetap saja itu disebut silaturrahmi dari balita hingga dewasa yang akan turun ke lapangan untuk ikut serta.

 

 Atraksi Gantao

Atraksi Gantao Jenis tarian ini berasal dari Sulawesi Selatan dengan nama asli Kuntao. Namun di Bima diberi nama Gantao. Atraksi seni yang mirip pencak silat ini berkembang pesat sejak abad ke-16 Masehi. Karena pada saat itu hubungan antara kesultanan Bima dengan Gowa dan Makasar sangat erat. Atraksi ini dapat dikategorikan dalam seni Bela diri (silat), dan dalam setiap gerakan selalu mengikuti aturan musik tradisional Bima (Gendang, Gong, Tawa-tawa dan Sarone). Pada zaman dahulu setiap acara-acara di dalam lingkungan Istana Gantao selalu digelar dan menjadi ajang bertemunya para pendekar dari seluruh pelosok, hingga saat ini Gantao masih tetap lestari detengah-tengah masyarakat Bima dan selalu digelar pada acara sunatan maupun perkawinan

 

Tari Wura Bongi Monca 

Tari Wura Bongi Monca

Seni budaya tradisional Bima berkembang cukup pesat pada masa pemerintahan sultan Abdul Kahir Sirajuddin, sultan Bima ke-2 yang memerintah antara tahun 1640-1682 M. Salah satunya adalah Tarian Selamat Datang atau dalam bahasa Bima dikenal dengan Tarian Wura Bongi Monca. Gongi Monca adalah beras kuning. Jadi tarian ini adalah Tarian menabur Beras Kuning kepada rombongan tamu yang datang berkunjung. Tarian ini biasanya digelar pada acara-acara penyabutan tamu baik secara formal maupun informal. Pada masa kesultanan tarian ini biasa digelar untuk menyambut tamu-tamu sultan. Tarian ini dimainkan oleh 4 sampai 6 remaja putri dalam alunan gerakan yang lemah lembut disertai senyuman sambil menabur beras kuning kearah tamu, Karena dalam falsafah masyarakat Bima tamu adalah raja dan dapat membawa rezeki bagi rakyat dan negeri.

 

 Tari Lenggo

Tari Lenggo ada dua jenis yaitu Tari Lenggo Melayu dan Lenggo Mbojo. Lenggo Melayu diciptakan oleh salah seorang mubalig dari Pagaruyung Sumatera Barat yang bernama Datuk Raja Lelo pada tahun 1070 H. Tarian ini memang khusus diciptakan untuk upacara Adat Hanta UA Pua dan dipertunjukkan pertama kali di Oi Ule (Pantai Ule sekarang) dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lenggo Melayu juga dalam bahasa Bima disebut Lenggo Mone karena dibawakan oleh 4 orang remaja pria.       

 

 

Rawa Mbojo 

Rawa Mbojo

Salah satu seni budaya Mbojo yang merupakan ajang hiburan masyarakat tempo dulu adalah Rawa Mbojo. Seni ini adalah salah satu media penyampaian pesan dan nasehat yang disuguhkan terutama pada malam hari saat-saat penen sambil memasukkan padi di lumbung. Senandung Rawa Mbojo yang di-iringi gesekan Biola berpadu dengan syair dan pantun yang penuh petuah adalah pelepasan lelah dan pembeli semangat kepada warga yang melakukan aktifitas di tiap-tiap rumah. Sebagai selingan, dihadirkan pula seorang pawang cerita yang membawakan dongeng-dongeng yang menarik dan penuh makna kehidupan.

 

 

 

Hadrah Rebana

Hadrah Rebana

Hadrah Rebana merupakan jenis atraksi yang telah mendapat pengaruh ajaran islam. Syair lagu yang dinyanikan adalah lagu-lagu dalam bahasa Arab dan biasanya mengandung pesan-pesan rohani. Dengan berbekal 3 buah Rebana dan 6 sampai 12 penari, mereka mendendangkan lagu-lagu seperti Marhaban dan lain-lain. Hadrah Rebana biasa digelar pada acara WA’A CO’I (Antar Mahar), Sunatan maupun Khataman Alqur’an. Hingga saat ini Hadrah Rebana telah berkembang pesat sampai ke seluruh pelosok. Hal yang menggembirakan adalah Hadrah Rebana ini terus berkembang dan dikreasi oleh seniman di Bima. Dan banyak sekali karya-karya gerakan dan lagu-lagu yang mengiringi permainan Hadrah Rebana ini.

 

 

MAKANAN KHAS BIMA

  Kali ini saya mengajak teman-teman untuk mengenal kuliner khas Bima, Ya setiap daerah pasti memiliki ciri khasnya masing begitu pula dengan Bima dan salah satu ke istimewaan Bima adalah terletak pada makanannya.

                                                                               

 Uta Palumara

sarangge.files.wordpress.com

Masakan ini terbuat dari ikan bandeng dan rasanya asam, manis, pedas dengan tambahan aroma khas pataha (daun kemangi) wah ngebayanginnya aja udah ngiler nih.. buruan nyoba broo .. 

 

 

 

 

Uta londe puru 

 

Uta londe puru ini tersendiri memiliki citarasa bandeng yg berbeda dari masakan bandeng lainnya, rasa dagingnya manis, gurih karena di ambil langsung dari ombo(tambak)

 

 

Uta Sepi Tumis

           Yang satu ini merupakan makanan kesukaan orang bima, yg terbuat dari udang udang kecil yg di tumis dng tomat, cabe, asam muda dan kemangi. WOW rasanya  sulit di lupakan, dan rasanya enak enak gimana…. gitu, pokonye bikin ketagihan deh 😀 Sellamat mencoba yaa 😀

 

 

 

Uta Poco Karamba Tumis

Makanan yang satu ini sungguh akan menambah selera makan anda , disamping rasanya yang gurih , makanan ini juga memliki cita rasa yang sangat khas , sehingga bagi anda para pencobanya mustahil bisa melupakan rasa makanan ini 😀

 

 

 

 

Jame Mangge

 Jame mangge adalah sebuah sambal yang dibuat dari asam muda yang diulek dengan cabe, garam dan bumbu dapur lainnya. Sambal yang satu ini sangat cocok disajikan dengan ikan teri , ikan Bakar , karena rasa yang asam dari sambal nya membuat anda gak merasa kenyang dengan hanya makan satu piring saja . jadi kalau mau menghidangkan sambal ini , sediakan dulu nasi yang banyak yaa 😀 Heheheh 

 

 

 

Tota Fo’o 

Tota fo’o yang dalam bahasa indonesianya adalah mangga cincang adalah suatu sambal yang sangat khas dan terkenal di daerah bima. Rasa asam dari mangganya serta peds dari cabe yang tumbuk membangkitkan selera makan anda yang mencobanya. Jadi kalau anda berlibur ke daerah Bima, belum lengkap rasanya jika anda belum mencoba sambal yang nikmat ini.Mungkin ini hanya sebagian dari begitu banyaknya makanan khas yang ada di daerah Bima, Nusa Tenggara Barat. Jadi belum lengkap rasanya kalo berkunjung di Bima gak nyobain makanan makanan khas nya. Jadi rugi deh kalo gak nyoba … :                                                                     

 

Bingka Dolu

Merupakan kue khas Bima yang sangat disukai juga oleh masyarakat sekitar. Teksturnya lembut dan mudah dikunyah. Warna hijaunya berasal dari daun suji. Anda mudah mendapatkan kue ini di pasar tradisional yang ada di Bima.

 

 

 

 

CIRI KHAS KOTA BIMA

                                                                           

Tenun Ikat Bima

Pembuatan sarung ini telah turun temurun sejak abad ke-15. Kerajinan ini dikenal dengan istilah Muna Ro Medi dalam bahasa Mbojo. Kegiatan ini dilakukan untuk mengisi waktu sembari menunggu suami pulang bekerja. Mereka berkelompok, mengerjakan tenun sambil menjaga anak-anak. “Ya, sambil ngerumpi juga,” 

Kain dan kerajinan tenun kota Bima sudah menjadi komoditas andalan dalam kegiatan perdagangan di Nusantara. Beberapa hasil kreasi tenun yang paling populer adalah sarung (tembe), destar (sambolo) dan ikat pinggang (weri).

Leave a Comment